Bertaruh Nyawa Demi Sukseskan Program Sertifikat Tanah Gratis di Pelalawan

Media Informasi Publik Memantau dan Menyampaikan Dengan Data dan Fakta.

Bertaruh Nyawa Demi Sukseskan Program Sertifikat Tanah Gratis di Pelalawan

Jumat, 10 Januari 2020, 11:24 PM

Pelalawan (PantauNews.co.id) - Di penghujung tahun 2019 adalah hari yang sangat melelahkan bagi belasan petugas pengukuran Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Kantor Pertanahan Kabupaten Pelalawan, Riau.

Belasan petugas ini diburu waktu untuk menuntas dan menerbitkan ribuan sertifikat tanah gratis milik masyarakat di beberapa desa di sejumlah kecamatan.

Belasan petugas ini terbagi kepada tim pengukuran, harus rela meninggalkan keluarga tercinta satu bulan lamanya, menuju ke desa-desa terjauh di Kabupaten Pelalawan demi suksesnya program Nawacita Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo.

Sebut saja desa terjauh dari Program PTSL di Kabupaten Pelalawan tahun 2019 di antaranya Desa Labuhan Bilik Kecamatan Teluk Meranti, Desa Sokoi dan Desa Sungai Emas. Kedua desa ini berada di Kecamatan Kuala Kampar.

Siapa sangka di balik tugas negara itu, petugas pengukuran harus bertaruh nyawa di lapangan. Tak jarang petugas menemukan jejak kaki harimau, bahkan bekas kerangka hewas buas nan mematikan ini.

Kisah itu diceritakan seorang petugas PTSL bernama Fajar Prasetya dari Kantor Pertanahan Kabupaten Pelalawan, Jumat (10/01/2020).

Menurut penuturan pria lajang ini, kejadian penemuan jejak kaki harimau ini dijumpai oleh tim yang bertugas di Desa Air Emas Kecamatan Kuala Kampar.

Tim pengukuran lainnya, kata dia seperti di Desa Sokoi Kecamatan Kuala Kampar, selain menemukan jejak kaki Sibelang bahkan menemukan kerangka harimau, diduga kena perangkap jerat oleh pemburu liar. Desa Sokoi katanya, sebuah desa terjauh berbatasan dengan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).

Beruntung ketika melakukan pengukuran dirinya bersama tim tidak bertemu langsung dengan Harimau. Namun, kata dia petugas dibuat was-was dan ketakutan.

"Harus bagaimana lagi, bang ini kan tugas, mau tak mau harus kita jalankan. Meskipun itu nyawa taruhannya," kenang Fajar Prasetya seraya menghela nafasnya, dalam-dalam.

Tidak saja sampai di situ, tim lain seperti di Desa Labuhan Bilik Kecamatan Teluk Meranti harus masuk dalam sungai demi mendapat titik koordinat yang tepat. Notabenenya di titik ini merupakan rumah dari kawanan buaya. Sama halnya di Desa Terbangiang Kecamatan Bandar Petalangan.

Itu hanya sederet duka yang dialami petugas PTSL di lapangan. Sementara selama menjalan tugas tim pengukuran harus rela menerima tempat tinggal ala kadarnya dari pemerintahan desa seadanya saja.

Kantor desa, sebutnya, disulap menjadi tempat tinggal. Di sinilah seluruh petugas menghabiskan malam seraya menunggu pagi dengan tugas keesokan harinya yang sudah menanti.

Seperti di Desa Sokoi, kata dia tidak ada sinyal internet yang memadai untuk berkomunikasi dengan 'dunia luar'. Jikapun, ada harus pergi ke suatu tempat sedikit agak jauh dari lokasi tempat tinggal.

Selama menjalankan tugas pengukuran ia berterus terang sama sekali tidak diperbolehkan atasan menerima imbalan apapun dari masyarakat ataupun pemerintahan desa. Selama di sana tim ini didanai utuh dari kantor Pertanahan Kabupaten Pelalawan.

Di tempat terpisah, Kepala Kantor (Kakan) Pertanahan Kabupaten Pelalawan Ruslan, berterus terang anak buahnya selama di lapangan tidak ada membenahi masyarakat.

"Selama petugas BPN di lapangan tidak ada membebani masyarakat, sehingganya masyarakat benar-benar bersyukur dan berterima kasih dengan BPN," tandasnya.

Sumber: Cakaplah.com

TerPopuler